Kenapa Banyak Gen Z Kurang Tertarik Bekerja di Pemerintahan?

Dulu jadi PNS adalah impian. Sekarang banyak Gen Z yang bahkan tidak memasukkannya dalam daftar pilihan. Ini bukan soal malas atau tidak patriotik — ini soal pergeseran nilai yang jauh lebih dalam dan lebih struktural dari yang sering diakui.

Gen Z kurang tertarik bekerja di pemerintahan bukan karena mereka anti-stabilitas, tapi karena definisi mereka tentang karier yang baik sudah berubah secara fundamental. Tujuh alasan utama: ketidaksesuaian sistem kerja kaku dengan preferensi fleksibilitas, karier yang terlalu lambat, gaji awal yang tidak kompetitif dibanding sektor swasta dan digital, minimnya ruang kreativitas, budaya birokrasi yang terasa tidak selaras, banyaknya alternatif karier baru yang lebih sesuai nilai mereka, dan prioritas kesehatan mental yang tidak selalu terpenuhi di lingkungan birokrasi.

Selama puluhan tahun, ada satu jawaban yang hampir universal saat orang tua Indonesia ditanya apa cita-cita untuk anak mereka: “Jadi PNS.” Stabil, ada pensiun, ada tunjangan, dihormati masyarakat. Paket lengkap.

Tapi sesuatu sudah berubah — dan perubahannya cukup signifikan untuk terlihat dalam data. Minat generasi muda terhadap karier di sektor pemerintahan terus menurun, sementara antusiasme terhadap startup, ekonomi kreatif, remote work, dan karier digital terus naik.

Yang menarik bukan hanya pergeserannya — tapi seberapa sedikit diskusi yang membahasnya secara jujur. Narasi yang paling sering terdengar adalah “Gen Z malas” atau “Gen Z tidak mau susah.” Tapi kalau dilihat lebih dalam, yang terjadi jauh lebih kompleks dan lebih menarik dari itu.


Siapa Gen Z dan Bagaimana Mereka Membentuk Pandangan tentang Karier?

Gen Z adalah mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 — generasi yang tumbuh dengan smartphone di tangan, internet sebagai normalitas, dan pandemi COVID-19 sebagai salah satu pengalaman paling formative di masa muda mereka.

Tiga pengalaman ini bukan detail kecil. Mereka membentuk cara Gen Z melihat pekerjaan secara fundamental.

Internet memberi mereka akses ke informasi tentang cara kerja yang berbeda dari yang dijalani orang tua mereka. Mereka tahu bahwa ada orang yang bekerja dari Bali sambil digaji perusahaan di Amerika. Mereka tahu bahwa kreator konten bisa menghasilkan pendapatan yang jauh melampaui gaji PNS golongan tertentu. Mereka tahu bahwa karier tidak harus linear — naik satu anak tangga per beberapa tahun.

Pandemi mempercepat semua itu. Remote work yang sebelumnya dianggap privilege tiba-tiba menjadi standar. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya paling kaku soal kehadiran fisik terbukti bisa berjalan tanpa itu. Dan bagi Gen Z yang baru masuk dunia kerja di tengah pandemi, fleksibilitas bukan lagi aspirasi — itu adalah ekspektasi baseline.

Dalam konteks ini, sistem kerja pemerintahan yang belum banyak berubah terasa semakin jauh dari apa yang mereka harapkan.


7 Alasan Utama Gen Z Kurang Tertarik ke Pemerintahan

1. Fleksibilitas Adalah Non-Negotiable — dan Pemerintahan Belum Menawarkannya

Gen Z adalah generasi yang paling eksplisit dalam menyatakan bahwa fleksibilitas kerja bukan sekadar perk yang menyenangkan — ini adalah faktor penentu dalam memilih pekerjaan. Survei dari berbagai lembaga riset karier konsisten menunjukkan bahwa fleksibilitas tempat dan waktu kerja masuk dalam tiga besar faktor terpenting bagi Gen Z dalam menilai sebuah pekerjaan.

Sistem kerja pemerintahan Indonesia secara struktural belum dirancang untuk fleksibilitas. Jam kerja yang ditetapkan, kewajiban hadir fisik, absensi yang dipantau ketat, dan budaya kerja yang masih sangat berorientasi pada kehadiran daripada output adalah karakteristik yang bertentangan langsung dengan preferensi Gen Z.

Ini bukan soal malas. Ini soal perbedaan fundamental dalam cara kerja yang dianggap produktif dan bermartabat. Bagi Gen Z yang sudah terbiasa dengan lingkungan di mana hasil lebih dihargai dari kehadiran, sistem yang mengharuskan duduk di kantor delapan jam bahkan saat pekerjaan bisa diselesaikan dalam tiga jam terasa tidak masuk akal.

2. Jalur Karier yang Terlalu Lambat untuk Selera Mereka

Di startup, seorang karyawan berbakat bisa naik dari posisi entry level ke posisi manajerial dalam dua hingga tiga tahun jika performanya konsisten. Di perusahaan teknologi, ada jalur karier teknikal yang memungkinkan seseorang menjadi “senior” dengan tanggung jawab dan kompensasi yang sangat signifikan dalam waktu yang relatif singkat.

Di pemerintahan, sistem kepangkatan dan kenaikan jabatan diatur oleh regulasi yang ketat dan berbasis senioritas — bukan semata performa. Kenaikan pangkat membutuhkan waktu, kelulusan ujian dinas, dan proses administratif yang panjang. Ini bukan kondisi yang diciptakan dengan jahat — ada alasan-alasan historis dan sistemik di baliknya. Tapi bagi Gen Z yang sudah terbiasa dengan ekspektasi pertumbuhan yang lebih cepat, ini adalah gap yang sangat nyata.

Yang lebih dalam lagi: Gen Z tidak hanya ingin naik jabatan lebih cepat — mereka ingin melihat koneksi yang jelas antara usaha yang mereka keluarkan dan hasil yang mereka terima. Sistem berbasis senioritas memutus koneksi itu, dan bagi generasi yang sangat menghargai meritokrasi, ini adalah dealbreaker yang signifikan.

3. Gaji Awal yang Kalah Bersaing dengan Sektor Lain

Narasi tentang stabilitas gaji PNS memang valid untuk jangka panjang. Tapi bagi Gen Z yang baru masuk pasar kerja, perspektif jangka panjang itu harus bersaing dengan realita jangka pendek yang sangat konkret.

Gaji awal PNS golongan III-a (untuk lulusan S1) berdasarkan PP No. 5 Tahun 2024 berada di kisaran Rp2,7–3 juta per bulan — sebelum tunjangan. Dengan berbagai tunjangan, take-home pay bisa lebih besar, tapi sangat bervariasi tergantung instansi dan lokasi penempatan.

Sementara itu, fresh graduate dengan skill digital yang relevan bisa mendapat gaji Rp5–10 juta di startup atau perusahaan teknologi. Software developer junior di perusahaan menengah bergaji Rp6–12 juta. Content creator atau digital marketer yang kompeten di agensi digital bergaji Rp4–8 juta dengan potensi berkembang yang jauh lebih cepat.

Gap ini nyata dan signifikan, terutama di kota-kota besar dengan biaya hidup yang tinggi. Dan untuk Gen Z yang tumbuh melihat teman-temannya menghasilkan dari konten, dari freelance, atau dari pekerjaan digital, gaji awal PNS bukan lagi angka yang otomatis terasa menarik.

4. Ruang Kreativitas yang Sempit dalam Sistem yang Sangat Terstandarisasi

Salah satu karakteristik paling konsisten dari Gen Z dalam dunia kerja adalah kebutuhan mereka untuk merasa bahwa kontribusi mereka bermakna dan bahwa mereka punya ruang untuk mengekspresikan ide-ide baru. Ini bukan kesombongan — ini adalah karakteristik yang sangat konsisten muncul dalam survei dan penelitian tentang motivasi kerja Gen Z di berbagai negara.

Sistem pemerintahan, secara inheren, beroperasi berdasarkan SOP, regulasi, dan preseden. Ini punya alasan yang sangat valid — konsistensi layanan publik, akuntabilitas, dan kepastian hukum semuanya bergantung pada standardisasi prosedur. Tapi efek sampingnya adalah ruang yang sangat terbatas untuk inisiatif individual, inovasi yang tidak terstandarisasi, atau cara kerja baru yang belum ada presedennya.

Bagi Gen Z yang terbiasa dengan lingkungan di mana “coba dulu, iterasi kemudian” adalah norma — pendekatan yang dipelajari dari budaya startup dan teknologi yang mereka konsumsi setiap hari — sistem yang mengharuskan setiap inisiatif melewati lapisan persetujuan dan justifikasi terasa seperti tembok yang sangat tinggi.

5. Budaya Birokrasi yang Terasa Tidak Selaras dengan Cara Mereka Bekerja

Ini lebih halus dari soal fleksibilitas atau gaji — ini soal budaya. Dan budaya adalah salah satu faktor yang paling susah diubah dalam organisasi apapun, apalagi dalam sistem sebesar pemerintahan.

Budaya birokrasi yang dimaksud bukan hanya soal prosedur yang panjang. Ini soal hierarki yang sangat vertikal di mana junior diharapkan tidak banyak bicara sebelum senior memberi ruang. Ini soal penampilan dan atribut yang sangat diatur. Ini soal rapat-rapat yang panjang dengan output yang tidak selalu jelas. Ini soal sensitivitas terhadap kritik yang membuat inovasi terasa berisiko secara sosial.

Gen Z tumbuh dalam budaya yang jauh lebih horizontal — di media sosial, opini semua orang punya potensi untuk didengar terlepas dari usia atau jabatan. Dalam komunitas online, kontribusi dihargai berdasarkan kualitasnya bukan senioritas kontributornya. Transisi ke lingkungan yang sangat vertikal dan sangat hierarkis bisa terasa seperti culture shock yang sangat nyata.

6. Lautan Alternatif yang Sebelumnya Tidak Pernah Ada

Generasi orang tua Gen Z tidak punya banyak pilihan. Opsi karier yang tersedia dan dianggap respektabel sangat terbatas: PNS, karyawan perusahaan besar, atau buka usaha sendiri dengan modal yang tidak sedikit. Dalam konteks itu, PNS adalah pilihan yang sangat masuk akal.

Gen Z hidup di ekosistem yang sama sekali berbeda. Mereka bisa menjadi content creator dengan penghasilan yang tidak kalah dari manajer menengah. Mereka bisa bekerja sebagai remote worker untuk perusahaan Singapura atau Australia tanpa pindah dari kamar kos di Denpasar. Mereka bisa membangun produk digital dengan modal minimal dan menjualnya ke pasar global. Mereka bisa menjadi freelancer dengan portofolio klien internasional.

Ekspansi pilihan ini bukan hanya mengubah apa yang Gen Z pilih — ia mengubah standar yang mereka gunakan untuk mengevaluasi semua pilihan. PNS kini bersaing bukan hanya dengan karyawan swasta, tapi dengan seluruh ekosistem karier baru yang jauh lebih beragam dan jauh lebih sesuai dengan gaya hidup yang mereka inginkan.

7. Gen Z Sangat Serius tentang Kesehatan Mental — dan Ini Bukan Kelemahan

Ini mungkin aspek yang paling sering disalahpahami oleh generasi yang lebih tua. Gen Z adalah generasi yang paling terbuka dalam sejarah dalam membicarakan kesehatan mental, paling sadar tentang dampak lingkungan kerja terhadap kesejahteraan psikologis, dan paling tegas dalam menetapkan batas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Beberapa lingkungan kerja pemerintahan — tidak semua, tapi cukup banyak — memiliki dinamika yang bisa menjadi beban psikologis yang signifikan: tekanan dari publik yang tidak selalu adil, budaya tidak bisa menolak perintah atasan bahkan yang tidak masuk akal, ekspektasi loyalitas yang melampaui batas yang sehat, dan stigma terhadap mereka yang menunjukkan tanda-tanda stres atau kelelahan.

Gen Z tidak mau berdamai dengan ini. Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras — tapi karena mereka sudah cukup banyak melihat bagaimana burnout dan lingkungan kerja yang tidak sehat merusak kehidupan seseorang secara permanen. Dan mereka memutuskan untuk tidak mewarisi pola itu.


Apakah Ada Sisi Lain yang Perlu Dipertimbangkan?

Artikel ini bukan argumen bahwa pekerjaan pemerintahan buruk. Penting untuk menyeimbangkan gambar ini.

Beberapa hal yang masih sangat menarik dari karier di pemerintahan untuk sebagian Gen Z:

Stabilitas jangka panjang yang nyata. Di tengah ketidakpastian ekonomi, ada Gen Z yang sangat mengapresiasi kepastian bahwa mereka tidak akan di-PHK dan akan punya pensiun. Ini bukan nilai yang bisa diabaikan begitu saja, terutama bagi mereka yang punya tanggungan keluarga.

Dampak yang berskala. Bekerja di pemerintahan berarti keputusan yang kamu buat bisa berdampak pada jutaan orang. Untuk Gen Z yang genuinely peduli pada isu sosial dan ingin berkontribusi pada perubahan sistemik, ini adalah daya tarik yang sangat nyata yang tidak bisa ditiru oleh startup mana pun.

Beberapa instansi sudah berubah. Tidak semua lingkungan pemerintahan sama. Ada instansi — terutama di kementerian digital, lembaga riset, dan BUMN tertentu — yang budaya dan cara kerjanya sudah jauh lebih modern dan lebih kondusif bagi talenta Gen Z.


Apa Artinya Ini untuk Gen Z yang Sedang Memilih Karier?

Jika kamu Gen Z yang sedang mempertimbangkan pilihan karier, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan dengan jujur:

Pertama, jangan menolak pemerintahan hanya karena stereotip — dan jangan memilihnya hanya karena tekanan keluarga. Lakukan riset yang spesifik tentang instansi yang kamu minati, karena variasinya sangat besar.

Kedua, nilai stabilitas dan nilai fleksibilitas tidak harus saling meniadakan. Ada cara untuk membangun keamanan finansial sambil tetap bekerja di lingkungan yang lebih fleksibel — dengan perencanaan yang tepat.

Ketiga, apapun pilihan kariermu, berinvestasilah dalam skill yang bisa bertahan di berbagai konteks. Skill digital, kemampuan komunikasi yang kuat, dan literasi data adalah fondasi yang berguna baik di sektor swasta maupun pemerintahan.

FAQ

Apakah semua Gen Z tidak tertarik dengan pekerjaan pemerintahan?

Tidak — ada segmen Gen Z yang masih sangat tertarik dengan karier di pemerintahan, terutama mereka yang genuinely peduli pada dampak sosial berskala besar, yang mengutamakan stabilitas jangka panjang, atau yang menemukan instansi dengan budaya kerja yang sudah lebih modern dan kondusif.

Apakah pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya untuk menarik Gen Z?

Ada upaya yang sudah dilakukan, termasuk modernisasi sistem rekrutmen CPNS melalui platform digital, beberapa inisiatif transformasi digital di berbagai kementerian, dan program-program yang mencoba membawa talenta muda dengan skill khusus — tapi secara keseluruhan, perubahan budaya dan sistemik yang lebih dalam masih berlangsung lambat dibanding ekspektasi Gen Z.

Apakah pilihan Gen Z untuk menghindari pemerintahan berdampak negatif pada pelayanan publik?

Ini adalah pertanyaan yang valid dan penting — jika talenta terbaik generasi muda konsisten memilih sektor lain, ada risiko jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia di pemerintahan; inilah salah satu alasan mengapa reformasi birokrasi yang lebih sungguh-sungguh bukan hanya soal efisiensi internal tapi juga soal daya tarik terhadap talenta terbaik.

Bagaimana Gen Z di Bali khususnya melihat karier di pemerintahan?

Di Bali, ada dinamika tambahan yang unik — banyak Gen Z lokal Bali yang sebenarnya ingin tetap tinggal di Bali, dan pekerjaan pemerintahan di kabupaten atau provinsi menjadi salah satu jalur yang memungkinkan itu; tapi tantangan gaji yang tidak kompetitif dibanding industri pariwisata atau digital, ditambah biaya kewajiban adat yang nyata, membuat kalkulasinya lebih kompleks dari sekadar preferensi gaya hidup.

Apakah bekerja di BUMN bisa jadi jalan tengah untuk Gen Z yang ingin stabilitas tapi juga pertumbuhan?

BUMN memang sering disebut sebagai “jalan tengah” karena menawarkan stabilitas yang lebih terjamin dibanding swasta murni tapi dengan budaya yang kadang lebih dinamis dari instansi pemerintahan murni — tapi kualitasnya sangat bervariasi antar BUMN, dan penting untuk melakukan riset mendalam tentang budaya kerja spesifik BUMN yang kamu minati sebelum memutuskan.

Kesimpulan

Gen Z kurang tertarik ke pemerintahan bukan karena mereka generasi yang lebih buruk dari pendahulunya. Mereka adalah generasi yang tumbuh di dunia yang berbeda, dengan peluang yang berbeda, dan dengan pemahaman yang berbeda tentang apa yang membuat karier bermakna.

Pertanyaan yang lebih produktif bukan “kenapa Gen Z tidak mau jadi PNS” — tapi “bagaimana sistem pemerintahan perlu berevolusi untuk tetap relevan sebagai pilihan karier bagi generasi yang akan mewarisi dan menjalankannya?”

Jawabannya tidak mudah dan tidak cepat. Tapi pertanyaan itu perlu diajukan — dan didiskusikan dengan lebih jujur dari yang selama ini terjadi.


👉 Apapun jalur karier yang kamu pilih, pastikan CV-mu siap mempresentasikan yang terbaik dari dirimu. Buat CV Gratis di LokerBali sekarang

Dunia Kerja, freshgraduate, FYI, Interview / Wawancara, Lamar Kerja, Tentang Profesi, Tips