Apa Sisi Gelap Dunia Kerja yang Membuat Mental Pekerja Gen Z Semakin Rusak?

Dunia kerja tidak selalu seindah yang dibayangkan. Banyak Gen Z masuk ke dunia profesional dengan harapan bisa mandiri secara finansial, berkembang, mendapatkan pengalaman, dan memiliki work-life balance. Namun, realitanya tidak selalu demikian.

Beban kerja berlebihan, lingkungan kerja yang tidak sehat, tuntutan untuk selalu produktif, ketidakjelasan karier, hingga komunikasi di luar jam kerja dapat membuat pekerja merasa terus berada dalam tekanan.

Kondisi tersebut bukan berarti Gen Z lebih lemah dibanding generasi sebelumnya. Setiap generasi memiliki tantangan masing-masing. Namun, pekerja muda saat ini menghadapi dunia kerja yang berubah cepat, persaingan tinggi, dan ekspektasi produktivitas yang semakin besar.

Ringkasan:
  • Beban kerja berlebihan dapat meningkatkan risiko kelelahan dan burnout.
  • Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat memengaruhi kesejahteraan pekerja.
  • Ketidakjelasan jobdesk dan jenjang karier dapat membuat pekerja kehilangan arah.
  • Komunikasi pekerjaan di luar jam kerja dapat menghilangkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  • Tekanan media sosial dapat memperkuat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
  • Perusahaan membutuhkan sistem yang nyata untuk mendukung kesejahteraan pekerja.

Apa yang Dimaksud dengan Sisi Gelap Dunia Kerja?

Sisi gelap dunia kerja adalah berbagai kondisi atau praktik kerja yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kesejahteraan, motivasi, produktivitas, dan kehidupan pribadi pekerja.

Contohnya adalah beban kerja yang tidak realistis, budaya lembur, komunikasi yang buruk, atasan yang tidak suportif, jobdesk yang tidak jelas, hingga lingkungan kerja yang membuat seseorang merasa tidak aman untuk menyampaikan masalah.

Tidak semua perusahaan memiliki kondisi tersebut. Namun, ketika beberapa faktor muncul secara bersamaan dan berlangsung dalam waktu lama, tekanan kerja dapat menjadi semakin berat.

1. Beban Kerja Tidak Sebanding dengan Kompensasi

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan pekerja muda adalah beban kerja yang tidak sebanding dengan kompensasi.

Seorang pekerja dapat menerima banyak tanggung jawab sekaligus, mulai dari administrasi, pelayanan pelanggan, membuat laporan, mengelola media sosial, hingga mengerjakan tugas di luar jobdesk utama.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa dukungan, penghargaan, atau pembagian pekerjaan yang jelas, pekerja dapat mengalami kelelahan fisik dan emosional.

Masalahnya bukan sekadar bekerja keras. Masalah muncul ketika tuntutan pekerjaan terus meningkat tanpa sumber daya, waktu, atau kompensasi yang sebanding.

2. Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat

Lingkungan kerja memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman seseorang selama bekerja. Atasan yang sering merendahkan, komunikasi pasif-agresif, konflik antarpegawai, bullying, atau budaya saling menyalahkan dapat membuat tempat kerja terasa melelahkan secara emosional.

Pekerja juga bisa merasa harus selalu terlihat kuat agar dianggap profesional. Padahal, profesional bukan berarti harus mengabaikan kondisi diri sendiri.

Lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk komunikasi, feedback, pembelajaran, dan penyelesaian masalah tanpa membuat pekerja takut menyampaikan pendapat.

3. Jobdesk Tidak Jelas dan Terus Berubah

Sisi gelap lain yang sering terjadi adalah ketidakjelasan peran dalam pekerjaan.

Pekerja bisa saja menerima posisi sebagai admin, tetapi kemudian diminta mengerjakan pekerjaan marketing, customer service, sales, hingga tugas operasional lainnya tanpa batas yang jelas.

Fleksibilitas memang dibutuhkan dalam pekerjaan. Namun, jika perubahan tanggung jawab terjadi terus-menerus tanpa komunikasi yang jelas, pekerja dapat merasa kewalahan dan tidak tahu sebenarnya apa yang menjadi prioritas mereka.

4. Karier Tidak Memiliki Arah yang Jelas

Bekerja keras tanpa mengetahui bagaimana karier akan berkembang juga dapat menimbulkan frustrasi.

Sebagian pekerja muda tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai peluang promosi, peningkatan kompetensi, evaluasi kinerja, atau keterampilan yang perlu dikuasai untuk naik ke posisi berikutnya.

Akibatnya, muncul pertanyaan seperti:

  • “Kalau saya bertahan di sini, lima tahun lagi akan menjadi apa?”
  • “Apa yang harus saya lakukan agar bisa naik jabatan?”
  • “Apakah performa saya sebenarnya dihargai?”

Ketidakjelasan seperti ini dapat membuat pekerjaan terasa stagnan meskipun seseorang sudah bekerja keras.

5. Lembur dan Chat Kantor di Luar Jam Kerja Dinormalisasi

Bekerja lembur sesekali mungkin diperlukan dalam kondisi tertentu. Masalah muncul ketika lembur dianggap sebagai standar loyalitas.

Pekerja yang selalu membalas pesan kantor pada malam hari, akhir pekan, atau saat sedang mengambil cuti dapat kehilangan batas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi.

Ketika tubuh dan pikiran tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar beristirahat, kelelahan dapat menumpuk.

Perlu diingat:

Bekerja keras bukan berarti harus selalu tersedia selama 24 jam. Batasan kerja yang sehat membantu seseorang mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.

6. Tekanan untuk Sukses di Usia Muda

Tekanan tidak hanya berasal dari kantor. Media sosial juga dapat membuat pekerja muda merasa tertinggal.

Setiap hari kita dapat melihat orang yang terlihat sukses di usia 20-an, mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, membangun bisnis, membeli rumah, atau bekerja di perusahaan besar.

Masalahnya, media sosial biasanya hanya menunjukkan hasil akhir, bukan proses panjang, kegagalan, kondisi finansial, atau dukungan yang dimiliki seseorang.

Membandingkan perjalanan karier sendiri dengan potongan kehidupan orang lain dapat membuat seseorang merasa gagal padahal sebenarnya sedang berada dalam proses yang normal.

7. Perusahaan Mengatakan Peduli Mental Health, tetapi Sistemnya Tidak Ada

Kesadaran mengenai kesehatan mental di tempat kerja semakin meningkat. Namun, slogan seperti “mental health matters” tidak cukup jika tidak disertai kebijakan dan dukungan nyata.

Dukungan tersebut dapat berupa komunikasi yang terbuka, beban kerja yang masuk akal, mekanisme pengaduan, waktu istirahat yang dihormati, kebijakan anti-bullying, serta akses terhadap bantuan profesional jika tersedia.

Pekerja juga seharusnya tidak dipaksa untuk selalu menyelesaikan masalah kesehatan mental sendirian.

Apakah Gen Z Memang Lebih Lemah Menghadapi Dunia Kerja?

Tidak tepat menyimpulkan bahwa Gen Z lebih lemah secara mental. Salah satu perbedaan yang terlihat adalah kesadaran terhadap kesehatan mental dan batasan pribadi semakin terbuka dibicarakan.

Pekerja muda mungkin lebih berani mengatakan bahwa mereka mengalami burnout, membutuhkan work-life balance, atau tidak nyaman dengan lingkungan kerja tertentu.

Namun, terbuka mengenai masalah bukan berarti tidak mampu bekerja. Justru kemampuan mengenali batas diri dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih sehat dan rasional.

Bagaimana Cara Melindungi Mental di Dunia Kerja?

Tidak semua masalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan resign. Sebelum mengambil keputusan besar, beberapa langkah berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Kenali sumber tekanan. Cari tahu apakah masalah berasal dari beban kerja, lingkungan, atasan, jam kerja, atau faktor lainnya.
  2. Tetapkan batasan. Bedakan waktu kerja dan waktu pribadi sebisa mungkin.
  3. Komunikasikan masalah. Jika memungkinkan, sampaikan kendala kepada atasan atau pihak yang bertanggung jawab.
  4. Bangun support system. Jangan menghadapi semua tekanan sendirian.
  5. Gunakan waktu istirahat. Istirahat bukan berarti malas.
  6. Evaluasi masa depan pekerjaan. Jika masalah terus berlangsung dan tidak ada perubahan, pertimbangkan opsi karier lain secara terencana.

Kapan Masalah Pekerjaan Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius?

Jika tekanan pekerjaan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari secara signifikan, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus ditahan sendirian.

Misalnya, seseorang mengalami kesulitan tidur berkepanjangan, kecemasan yang mengganggu aktivitas, kehilangan minat terhadap banyak hal, atau merasa tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi seperti ini, mencari bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat. Diagnosis dan penanganan sebaiknya dilakukan oleh profesional, bukan berdasarkan informasi dari media sosial atau artikel internet.

FAQ

Apakah semua Gen Z pasti mengalami masalah mental saat bekerja?

Tidak. Pengalaman setiap pekerja berbeda. Risiko tekanan kerja dapat meningkat ketika seseorang berada dalam lingkungan dengan beban kerja tinggi, dukungan rendah, konflik berkepanjangan, atau batas kerja yang tidak sehat.

Apakah burnout termasuk masalah kesehatan mental yang serius?

Burnout merupakan kondisi yang berkaitan dengan stres kerja kronis dan dapat berdampak serius pada kesejahteraan seseorang. Jika keluhan berlangsung lama atau mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.

Kenapa Gen Z terlihat lebih rentan secara mental?

Tidak tepat menyebut seluruh Gen Z lebih rentan. Salah satu faktor yang membuat isu ini lebih terlihat adalah meningkatnya kesadaran dan keterbukaan dalam membicarakan kesehatan mental dibandingkan sebelumnya.

Apakah resign adalah satu-satunya solusi ketika pekerjaan membuat stres?

Tidak selalu. Beberapa masalah dapat ditangani melalui komunikasi, pembagian kerja yang lebih jelas, batasan waktu kerja, cuti, atau dukungan dari lingkungan sekitar. Namun, jika lingkungan kerja terus tidak sehat dan tidak ada perubahan, mencari pekerjaan baru dapat menjadi salah satu pilihan.

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental saat bekerja?

Kenali batas diri, jaga waktu istirahat, komunikasikan masalah, bangun support system, dan hindari menormalisasi kondisi kerja yang terus-menerus membuatmu tertekan.

Kesimpulan

Sisi gelap dunia kerja bukan hanya tentang gaji atau jam kerja. Beban kerja yang tidak realistis, lingkungan yang tidak sehat, jobdesk yang tidak jelas, karier yang stagnan, lembur yang dinormalisasi, serta tekanan sosial dapat membuat pengalaman bekerja menjadi semakin berat.

Namun, masalah tersebut bukan berarti semua perusahaan buruk atau seluruh Gen Z tidak mampu menghadapi dunia kerja. Yang lebih penting adalah membangun lingkungan kerja yang sehat sekaligus meningkatkan kemampuan pekerja untuk mengenali batas, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara rasional.

Karier seharusnya membantu seseorang berkembang, bukan membuat kehidupannya habis hanya untuk bertahan dari satu hari kerja ke hari berikutnya.

Jangan Biarkan Pekerjaan Menghentikan Perkembanganmu

Kalau kamu sedang mempertimbangkan peluang baru karena ingin mendapatkan lingkungan kerja yang lebih sesuai, pastikan CV-mu sudah menunjukkan skill dan pengalaman terbaik yang kamu miliki.

Buat CV Gratis di LokerBali →

Dunia Kerja, FYI