Hari Bhatara Sri: Panduan Lengkap — Lontar Sundarigama, Soma Ribek, dan Dewi Kemakmuran yang Sesungguhnya
Mengenal Hari Bhatara Sri atau Sukra Umanis Merakih, landasan Lontar Sundarigama, hubungan dengan Soma Ribek, ritual di sawah dan lumbung, serta makna Bhatara Sri sebagai simbol padi, kesuburan dan kemakmuran.
Ringkasan Artikel
Hari Bhatara Sri atau Sukra Umanis Merakih merupakan hari suci Hindu Bali yang jatuh setiap 210 hari pada pertemuan Saptawara Sukra (Jumat), Pancawara Umanis, dan Wuku Merakih.
Berdasarkan kutipan Lontar Sundarigama yang menjadi landasan dalam materi ini, Sukra Umanis Merakih merupakan hari pemujaan kepada Bhatara Rambut Sedana yang juga disebut Sang Hyang Rambut Kephala.
Hari ini memiliki hubungan erat dengan padi, pangan, kesuburan, kemakmuran, sawah, dan lumbung. Dalam praktiknya, persembahyangan dapat dilakukan di tempat yang berkaitan dengan sumber pangan dan kemakmuran, termasuk sawah, lumbung, serta pelinggih keluarga.
Apa Itu Hari Bhatara Sri?
Hari Bhatara Sri adalah hari suci dalam tradisi Hindu Bali yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Bhatara Sri atau Bhatara Rambut Sedana. Hari ini memiliki hubungan kuat dengan padi, pangan, kesuburan, rezeki, dan kemakmuran.
Hari Bhatara Sri dikenal juga sebagai Sukra Umanis Merakih. Hari tersebut terbentuk dari tiga unsur penanggalan Bali, yaitu Sukra dalam Saptawara, Umanis dalam Pancawara, dan Merakih dalam Wuku.
Unsur Penanggalan Hari Bhatara Sri
- Sukra: Jumat dalam sistem Saptawara.
- Umanis: Umanis atau Manis dalam sistem Pancawara.
- Merakih: Wuku Merakih dalam sistem Pawukon.
- Siklus: Berulang setiap 210 hari.
Karena menggunakan siklus Pawukon, Hari Bhatara Sri muncul setiap 210 hari. Hari ini terutama memiliki arti penting bagi masyarakat yang kehidupan dan penghidupannya berkaitan dengan pertanian, padi, pangan, serta kemakmuran.
Apa Landasan Lontar Hari Bhatara Sri?
Salah satu bagian penting dalam pembahasan Hari Bhatara Sri adalah kutipan dari Lontar Sundarigama:
“Merakih, Sukra Umanis pujawalin Bhatara Rambut Sedana ngaran Sang Hyang Rambut Kephala.”
Dalam materi sumber, kalimat tersebut diterjemahkan sebagai: saat Sukra Umanis Merakih merupakan hari pemujaan untuk Bhatara Rambut Sedana yang juga disebut Sang Hyang Rambut Kephala.
Kutipan tersebut menjadi bagian penting untuk memahami hubungan antara Sukra Umanis Merakih dengan pemujaan Bhatara Rambut Sedana.
Bhatara Rambut Sedana
Nama Bhatara Rambut Sedana berkaitan dengan aspek kemakmuran dan pemberian. Dalam materi ini, istilah Sedana dikaitkan dengan makna derma, memberi, dan kemurahan.
Sang Hyang Rambut Kephala
Lontar Sundarigama juga menyebut nama Sang Hyang Rambut Kephala. Dalam materi sumber, istilah tersebut dijelaskan berkaitan dengan kepala atau puncak dan digunakan untuk menggambarkan manifestasi ketuhanan yang membawa kemakmuran.
Karena itu, Hari Bhatara Sri dalam materi ini tidak hanya berbicara mengenai pertanian, tetapi juga mengenai hubungan antara manusia, rezeki, pangan, dan kemakmuran.
Siapa Bhatara Sri?
Bhatara Sri berkaitan dengan berbagai aspek kemakmuran dalam kehidupan. Dalam konteks masyarakat agraris Bali, Sri sangat erat hubungannya dengan padi dan kesuburan, sementara aspek Sedana memperluas maknanya kepada kemakmuran material dan rezeki.
Sri: Padi dan Kesuburan
Sri merupakan nama yang sangat erat dengan padi sebagai sumber pangan. Dalam kehidupan masyarakat Bali, padi bukan hanya dipandang sebagai bahan makanan, tetapi juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat.
Karena itu, persembahyangan kepada Bhatari Sri dapat dilakukan di tempat yang berkaitan dengan padi dan pangan, seperti sawah, lumbung, atau tempat penyimpanan beras.
Sedana: Kemakmuran Material
Dalam materi sumber, Sri Sedana dikaitkan dengan manifestasi Brahman yang memberikan kesuburan, kemakmuran, kebahagiaan, kemuliaan, derma, dan kemurahan.
Dengan demikian, makna Sri tidak hanya berhenti pada padi. Ia juga berkaitan dengan kemakmuran yang lebih luas dalam kehidupan manusia.
Hubungan dengan Dewi Laksmi
Dalam pembahasan mengenai kemakmuran, Bhatara Sri juga memiliki hubungan dengan konsep Dewi Laksmi sebagai manifestasi ketuhanan yang berkaitan dengan kemakmuran, keberuntungan, dan kesejahteraan dalam tradisi Hindu.
Hubungan dengan Dewi Danu
Aspek lain yang berkaitan dengan kehidupan pertanian adalah air. Dewi Danu dikaitkan dengan air atau danau dan menjadi bagian penting dalam konteks kesuburan pertanian Bali.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kemakmuran pertanian tidak hanya bergantung pada padi, tetapi juga pada air dan lingkungan yang mendukung proses pertumbuhan tanaman.
Apa Hubungan Bhatara Sri dengan Dewa Kuwera?
Dalam materi sumber, fungsi Bhatara Sri Sedana disebut memiliki kemiripan dengan Dewa Kuwera, yang dalam beberapa tradisi Hindu dikenal berkaitan dengan kekayaan dan sebagai bendahara para dewa.
Persamaan tersebut terutama berada pada aspek kemakmuran dan kekayaan. Bhatara Sri Sedana dikaitkan dengan pemberian kemakmuran kepada manusia, sedangkan Dewa Kuwera dikenal dalam konteks kekayaan dan pengelolaan harta.
Makna Hubungan Sri Sedana dan Kuwera
Keduanya dapat dipahami sebagai bagian dari pembahasan mengenai kemakmuran dalam perspektif Hindu. Namun, penyamaan tersebut sebaiknya dipahami dalam konteks fungsi atau aspek kemakmuran, bukan berarti keduanya merupakan tokoh yang identik dalam seluruh tradisi Hindu.
Apa Hubungan Hari Bhatara Sri dengan Soma Ribek?
Soma Ribek merupakan hari yang sangat erat kaitannya dengan Hari Bhatara Sri karena keduanya berada dalam Wuku Merakih dan sama-sama berkaitan dengan padi, beras, pangan, serta kemakmuran.
Dalam materi sumber, Soma Ribek disebut sebagai hari penegdegan Bhatara Sri atau piodalan padi dan beras. Pelaksanaannya berkaitan dengan lumbung sebagai tempat penyimpanan padi dan pulu sebagai tempat penyimpanan beras.
Pantangan pada Soma Ribek
Lontar Sundarigama dalam materi sumber menyebut:
“Ikang wang tan wenang anumbuk pari, angadol beras, katemah dening Bhatara Sri.”
Dalam materi tersebut, kalimat itu diterjemahkan sebagai larangan menumbuk padi dan menjual beras pada Soma Ribek.
Perbedaan Fokus Soma Ribek dan Hari Bhatara Sri
- Soma Ribek: berkaitan dengan piodalan padi dan beras serta penghormatan terhadap tempat penyimpanan pangan.
- Hari Bhatara Sri: berkaitan dengan pemujaan Bhatara Rambut Sedana atau Sri Sedana sebagai aspek kemakmuran.
Apa Makna Wuku Merakih?
Hari Bhatara Sri berlangsung dalam Wuku Merakih. Dalam materi sumber, Wuku Merakih memiliki berbagai keterkaitan simbolis dengan kesuburan, pertumbuhan, dan kemakmuran.
Wuku ini juga berkaitan dengan otonan, yaitu peringatan hari kelahiran menurut siklus Pawukon. Dalam materi sumber disebutkan pula adanya kaitan dengan Dewa Surenggana dan Lintang Angsa Angrem.
Makna Lintang Angsa Angrem
Lintang Angsa Angrem menggambarkan angsa yang sedang mengerami. Dalam materi ini, gambaran tersebut digunakan sebagai simbol proses yang membutuhkan kesabaran dan perhatian untuk menumbuhkan kehidupan baru.
Simbol tersebut selaras dengan tema pertumbuhan dan kesuburan yang terdapat dalam pembahasan Hari Bhatara Sri.
Bagaimana Ritual Hari Bhatara Sri Dilaksanakan?
Salah satu karakter khas Hari Bhatara Sri adalah pelaksanaan persembahyangan yang berkaitan langsung dengan tempat sumber pangan dan kemakmuran, terutama sawah, lumbung, tempat penyimpanan beras, dan tempat suci keluarga.
Persembahyangan di Sawah dan Lumbung
Masyarakat Bali dapat memanjatkan doa di sawah, lumbung padi, atau tempat penyimpanan beras sebagai bentuk penghormatan kepada Bhatari Sri sebagai penguasa bahan pangan, terutama padi-padian.
Hal ini menunjukkan hubungan yang dekat antara kehidupan spiritual dan aktivitas pertanian. Tempat menghasilkan pangan tidak hanya dipandang sebagai tempat bekerja, tetapi juga menjadi bagian dari ruang yang dihormati secara spiritual.
Sarana yang Dihaturkan
Dalam materi sumber, beberapa sarana yang disebutkan dalam perayaan Hari Bhatara Sri antara lain suci, daksina, peras, dan ajuman.
- Suci: persembahan yang berkaitan dengan kesucian niat.
- Daksina: persembahan sebagai bentuk penghormatan.
- Peras: persembahan yang berkaitan dengan permohonan kemurahan dan keberkahan.
- Ajuman: persembahan makanan sebagai bentuk rasa syukur.
Pelaksanaan upacara tetap perlu mengikuti tradisi, desa kala patra, serta ketentuan yang berlaku di lingkungan masing-masing.
Hari Bhatara Sri sebagai Sarana Bersyukur
Selain dimensi ritual, Hari Bhatara Sri juga memiliki dimensi sosial. Dalam materi sumber, perayaan hari ini menjadi kesempatan bagi umat untuk berkumpul, makan bersama, dan berbagi pengalaman.
Dengan demikian, makna kemakmuran tidak hanya dilihat dari hasil panen atau jumlah kekayaan yang dimiliki seseorang. Kemakmuran juga memiliki dimensi berbagi, kebersamaan, dan rasa syukur.
Apa Hubungan Hari Bhatara Sri dengan Subak?
Pembahasan mengenai Hari Bhatara Sri juga tidak dapat dipisahkan dari konteks pertanian Bali dan subak. Subak merupakan sistem pengelolaan irigasi pertanian Bali yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat agraris.
Dalam materi sumber, subak dan ritual pertanian digambarkan sebagai bagian dari hubungan antara pengelolaan air, kegiatan pertanian, dan kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Hubungan ini menunjukkan bahwa dalam tradisi pertanian Bali, kegiatan menghasilkan pangan tidak selalu dipisahkan dari ritual dan penghormatan terhadap alam.
Mengapa Ini Relevan Sekarang?
Ketika masyarakat semakin jauh dari proses produksi pangan, Hari Bhatara Sri dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat hubungan antara manusia, tanah, air, petani, dan pangan yang dikonsumsi setiap hari.
Apakah Hari Bhatara Sri Hanya untuk Orang yang Bertani?
Tidak. Meskipun hubungan paling kuat secara tradisional adalah dengan padi dan pertanian, makna kemakmuran dalam Hari Bhatara Sri dapat dipahami secara lebih luas.
Bagi masyarakat yang bekerja di sektor lain, rasa syukur terhadap rezeki dapat menjadi bagian dari refleksi pada hari tersebut. Sumber kemakmuran memang dapat berbeda: bagi petani berupa hasil pertanian, bagi pedagang berupa usaha, dan bagi pekerja berupa pekerjaan serta penghasilan.
Karena itu, Hari Bhatara Sri dapat menjadi momentum untuk menghargai sumber rezeki sekaligus mengingat pentingnya pangan, alam, dan orang-orang yang mendukung kehidupan sehari-hari.
Makna Hari Bhatara Sri bagi Kehidupan Modern
Dalam kehidupan modern, kemakmuran sering kali terlihat dalam bentuk angka di rekening, pendapatan, aset, atau keberhasilan usaha. Namun, Hari Bhatara Sri mengingatkan bahwa kemakmuran juga memiliki akar yang sangat nyata: tanah, air, pangan, kerja manusia, dan lingkungan.
Dari sudut pandang tersebut, Hari Bhatara Sri bukan hanya tentang meminta rezeki, tetapi juga tentang menghargai sumber rezeki.
Bagi masyarakat yang tidak lagi bekerja di sawah, refleksi tersebut tetap relevan. Rezeki yang diterima setiap hari pada akhirnya memiliki hubungan dengan banyak orang dan sumber daya yang saling terhubung.
FAQ Hari Bhatara Sri
1. Kapan Hari Bhatara Sri diperingati?
Hari Bhatara Sri atau Sukra Umanis Merakih diperingati setiap 210 hari, yaitu pada pertemuan Sukra (Jumat), Umanis, dan Wuku Merakih dalam kalender Pawukon Bali.
2. Apa landasan Lontar Hari Bhatara Sri?
Materi ini menggunakan Lontar Sundarigama sebagai salah satu landasan utama. Di dalamnya disebutkan bahwa Sukra Umanis Merakih merupakan hari pemujaan kepada Bhatara Rambut Sedana yang juga disebut Sang Hyang Rambut Kephala.
3. Siapa Bhatara Sri?
Bhatara Sri berkaitan dengan aspek padi, kesuburan, pangan, rezeki, dan kemakmuran. Dalam materi ini, Bhatara Sri juga dikaitkan dengan Sri Sedana dan Bhatara Rambut Sedana.
4. Apa hubungan Hari Bhatara Sri dengan Soma Ribek?
Keduanya sama-sama berada dalam Wuku Merakih dan berkaitan erat dengan padi, beras, pangan, serta kemakmuran. Soma Ribek lebih berkaitan dengan piodalan padi dan beras, sedangkan Hari Bhatara Sri merupakan pemujaan kepada Bhatara Rambut Sedana atau Sri Sedana.
5. Apakah persembahyangan Hari Bhatara Sri harus dilakukan di sawah?
Tidak harus. Sawah dan lumbung memiliki relevansi khusus bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan pertanian, tetapi persembahyangan juga dapat dilakukan di pelinggih, merajan, atau sanggah keluarga sesuai tradisi masing-masing.
6. Apa saja sarana yang digunakan pada Hari Bhatara Sri?
Dalam materi sumber disebutkan beberapa sarana seperti suci, daksina, peras, dan ajuman. Pelaksanaannya dapat menyesuaikan tradisi setempat, desa kala patra, dan ketentuan keluarga atau masyarakat.
7. Apa makna Hari Bhatara Sri bagi masyarakat modern?
Hari Bhatara Sri dapat menjadi momentum untuk menghargai sumber rezeki, pangan, tanah, air, petani, dan kerja manusia yang menopang kehidupan. Makna kemakmuran tidak hanya terbatas pada hasil pertanian, tetapi juga dapat direnungkan dalam konteks kehidupan modern.
Kesimpulan
Hari Bhatara Sri atau Sukra Umanis Merakih merupakan hari suci Hindu Bali yang memiliki hubungan erat dengan Bhatara Rambut Sedana, Sang Hyang Rambut Kephala, padi, pangan, kesuburan, dan kemakmuran.
Berdasarkan materi Lontar Sundarigama yang digunakan dalam pembahasan ini, Sukra Umanis Merakih merupakan hari pemujaan kepada Bhatara Rambut Sedana. Karena itu, Hari Bhatara Sri memiliki hubungan yang kuat dengan penghormatan terhadap sumber pangan dan rezeki.
Hubungannya dengan Soma Ribek juga memperlihatkan bagaimana padi dan beras memiliki posisi penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. Sementara itu, keterkaitannya dengan sawah, lumbung, air, dan subak menunjukkan bahwa kemakmuran dalam tradisi Bali tidak dapat dipisahkan dari alam dan kerja manusia.
Pada akhirnya, Hari Bhatara Sri dapat menjadi pengingat untuk menghargai rezeki yang diterima, menjaga hubungan dengan alam, menghormati pangan, serta mensyukuri orang-orang dan proses yang membuat kehidupan dapat terus berjalan.
Siapkan Diri untuk Peluang Karier
Rezeki bisa datang dari berbagai arah, termasuk melalui peluang kerja. Pastikan kamu sudah memiliki CV yang rapi dan profesional ketika kesempatan datang.
Buat CV Gratis