Purnama Sasih Kepitu: Momentum Penyucian Diri dan Pemujaan Sang Hyang Siwa
Dalam tradisi Hindu di Bali, hari Purnama sentiasa dipandang sebagai Devasa Ayu atau hari yang sangat baik dan suci. Kehadiran bulan penuh dianggap sebagai waktu di mana alam semesta memancarkan tenaga kesucian yang tinggi. Salah satu Purnama yang memiliki makna mendalam bagi perjalanan spiritual umat adalah Purnama Sasih Kepitu.
Makna Purnama: Turunnya Para Dewata ke Dunia
Berdasarkan Lontar Purwana Tattwa Wariga, Purnama merupakan hari pertemuan antara Sang Hyang Gumawang (Sang Hyang Siva Nirmala) dengan Sang Hyang Maceling. Pada saat inilah, Sang Hyang Siva melakukan yoga untuk menganugerahkan kesucian dan keselamatan (kerahayuan) kepada seluruh isi alam semesta.
Sesuai dengan kepercayaan ini, setiap hari Purnama, para Dewa dan Apsari diutus turun dari Swarga Loka ke dunia untuk menyaksikan persembahan dan bakti umat manusia. Itulah sebabnya, upacara yang jatuh tepat pada hari Purnama sering disebut sebagai upacara yang “Nadi“, di mana volume upakaranya ditingkatkan sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam.
Keistimewaan Sasih Kepitu: Menuju Malam Siwa Ratri
Sasih Kepitu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kalendar keagamaan Hindu. Keistimewaan sasih ini bukan sahaja terletak pada hari Purnamanya, tetapi juga pada rangkaian menuju Tilem Sasih Kepitu.
- Malam Peleburan Dosa: Pada malam Purwaning Tilem Sasih Kepitu, umat Hindu merayakan hari suci Siwa Ratri. Inilah malam di mana Sang Hyang Siva melakukan yoga yang agung.
- Siwa Ratri: Dikenali sebagai malam perenungan dosa atau malam peleburan kegelapan dalam diri. Umat melakukan jagra (berjaga/tidak tidur), monabrata (berdiam diri), dan upawasa (puasa) sebagai bentuk disiplin rohani.
- Pemujaan Hyang Siva: Sebagai Dewanya Syurga, pemujaan pada Sasih Kepitu dilakukan dengan harapan agar roh mendapat tempat yang mulia di syurga atau mencapai alam Mokshah setelah meninggal dunia.
Mengapa Kita Memuja pada Hari Purnama?
Pelaksanaan Yadnya pada hari Purnama Sasih Kepitu bertujuan untuk mencapai keseimbangan hidup yang disebut dalam slogan dharma: “Moksartham Jagadhita Ya Caiti Dharma”, iaitu mencapai kebahagiaan di dunia (Jagadhita) dan kebahagiaan abadi di akhirat (Moksha).
Melalui persembahan yang tulus, umat Hindu memohon agar vibrasi kesucian dari yoga Sang Hyang Siva pada Sasih Kepitu ini dapat membersihkan batin daripada kegelapan moral dan fikiran.
Perhatian dalam Perhitungan Wariga
Walaupun Purnama secara umum adalah hari baik, artikel ini juga mengingatkan bahawa umat harus tetap memperhatikan perhitungan Wariga (kalendar tradisional Bali). Terdapat keadaan tertentu di mana Purnama tidak dianggap ayu (baik), contohnya:
- Hari Berek Tawukan: Jika Purnama jatuh pada hari Sabtu yang bertemu dengan Kajeng Keliwon (menurut Lontar Purwana Tatwa Wariga).
- Hari Gamia: Jika Purnama jatuh pada hari Kala Paksa, yang dianggap sebagai masa jagat letuh (alam sedang kotor).
Kesimpulan
Purnama Sasih Kepitu adalah masa yang tepat untuk kita kembali fokus kepada penyucian diri. Dengan melakukan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Siva, kita berharap agar pancaran sinar suci bulan purnama membawa kedamaian dan meleburkan segala kekhilafan yang telah lalu.
Informasi dan download Kalender Bali 2026 melalui link berikut ini: Kalender Bali 2026
Tanggal 3 Januari 2026 dan 23 Desember 2026